Read Rencana Besar by Tsugaeda Online

rencana-besar

Rifad Akbar. Pemimpin Serikat Pekerja yang sangat militan dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya.Amanda Suseno. Pegawai berprestasi yang mendapat kepercayaan berlebih dari pihak manajemen.Reza Ramaditya. Pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan jelas.Lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeretRifad Akbar. Pemimpin Serikat Pekerja yang sangat militan dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya.Amanda Suseno. Pegawai berprestasi yang mendapat kepercayaan berlebih dari pihak manajemen.Reza Ramaditya. Pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan jelas.Lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeret tiga nama itu ke dalam daftar tersangka. Seorang penghancur, seorang pembangun, dan seorang pemikir dengan motifnya masing-masing. Penyelidikan serius dilakukan dari balik selubung demi melindungi reputasi UBI. Akan tetapi, bagaimana jika kasus tersebut hanyalah awal dari sebuah skenario besar? Keping domino pertama yang sengaja dijatuhkan seseorang untuk menciptakan serangkaian kejadian. Tak terelakkan, keping demi keping berjatuhan, mengusik sebuah sistem yang mapan, tetapi usang dan penuh kebobrokan …....

Title : Rencana Besar
Author :
Rating :
ISBN : 9786027888654
Format Type : Paperback
Number of Pages : 373 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Rencana Besar Reviews

  • Darnia
    2019-03-08 20:12

    Gegara ingin mengurangi tumpukan, buku ini jadi ketemu di tumpukan bawah dengan kondisi mengenaskan (ada noda airnya!!!). Untung tidak mengurangi kenikmatan baca-nya, karena novel ini ternyata menarik.Gw nggak terlalu ngeh dengan dunia perbankan, tapi beberapa istilahnya sudah cukup familier. Dan dari bab awal sebenarnya sudah ketebak dalangnya siapa. Hanya saja, plotnya yg rapi dengan ending dramatis terutama saat Amanda di ruang siaran itu bener-bener te-o-pe. Untuk sebuah novel perdana, gw rasa karya Tsugaeda ini layak diacungi banyak jempol. Mari berburu buku lainnya dari pengarang ini *masih belum mampu nulis panjang lebar tentang buku ini, masih terpukau* XD

  • Rose Gold Unicorn
    2019-03-16 23:13

    Sebelumnya saya ingin sedikit bercerita tentang proses mendapatkan buku ini. Buku ini saya dapat dari giveaway yang diadakan penulis, Tsugaeda, di salah satu thread di Goodreads. Saya sendiri padahal, jujur, tidak aktif dan rajin mengunjungi Group GRI. Waktu itu, seorang teman, Mas Tezar, yang terlihat di newsfeed saya tercatat habis mengomentari sebuah thread giveaway. Maka, mampirlah saya ke sana. Ternyata syaratnya cukup mudah. Hanya memposting di thread tersebut bahwa saya menginginkan buku itu dan selanjutnya penulis yang akan menilai. Hmmm, saya tidak terlalu berharap, saat itu. Jadi yah nothing to lose saja. Buku ini sebelumnya sudah saya timang-timang ketika tempo hari saya ke toko buku. Melihat sinopsis di belakangnya dan judulnya yang terkesan misterius membuat saya tertarik sehingga langsung memasukkan buku ini dalam wishlist saya. Sebelumnya, saat saya membaca nama penulisnya, saya kira ini novel terjemahan dari Jepang. Ternyata, lho kok? Nama tokoh-tokohnya Indonesia sekali? Hehehehe… Kemudian ndilalah, Tuhan mengabulkan doa saya, sehingga saya bisa membaca buku ini dan kemudian mereviewnya di sini. Entah apa yang membawa saya sebagai pemenang. Faktor keberuntungan, mungkin? Alhamdulillah dan terima kasih, Mas Tsugaeda ^.^Anyway, saya rasa bukan saya saja yang penasaran dengan nama si penulis yang kejepang-jepangan. Betul? :-POke. Cukup ceritanya. Sekarang saya akan mengulas buku ini secara keseluruhan berdasarkan sudut pandang saya. SinopsisKalau Anda bertanya kepada saya apakah di Negara kita ini ada profesi sebagai detektif, saya akan jawab tidak. Kenapa? Hmmm, saya pernah menanyakan hal ini kepada seorang yang saya yakini dia pintar, dan dia bilang begitu. Jadi pada dasarnya saya hanya mengcopy jawaban dia saja. Hahahaha. Eh, tapi benar ‘kan tidak ada profesi detektif di Indonesia? *make sure* Seperti tokoh utama dalam buku ini, namanya Makarim Ghanim. Makarim bukan seorang detektif, tapi pengalamannya dalam member masukan bagi perusahaan-perusahaan besar dan pemerintah membuatnya cukup dikenal. Salah satunya, Agung Sudiatma. Agung adalah seorang wakil direktur sebuah bank yang bernama Universal Bank of Indonesia (UBI), ia meminta bantuan kepada Makarim untuk menyelesaikan kasus lenyapnya uang sebesar 17 milyar dari laporan keuangan UBI secara misterius.Tersebutlah tiga nama karyawan UBI Cabang Surabaya.Rifad Akbar.Amanda SusenoDan, Reza Ramaditya.Menurut Agung, masing-masing dari mereka memeliki motif dan akses untuk melakukan penggelapan. Rifad, katakanlah seorang aktivis kantoran. Amanda, perempuan ambisius yang cerdas dan pandai memikat hati lawan bicaranya. Dan Reza, pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan yang jelas.Kemudian berangkatlah Makarim ke Surabaya untuk menyelidiki kasus itu. Dengan sedikit sandiwara, akhirnya ia berhasil mengetahui siapa pelakunya. Ia lalu memutuskan kembali ke Jakarta dan melaporkan semuanya pada Agung. Namun, misteri yang sebenarnya ternyata baru terkuak saat Susi, mantan istri Makarim, melaporkan kasus tahun 2006. Oouw. Makarim ternyata belum bisa lepas dari kasus ini. Misteri besar ternyata masih ada di depan mata, dan Makarim harus menghadapinya.Ada sesuatu di UBI yang tidak ia tahu. Sebuah “Rencana Besar”…---Jujur, awalnya saya bimbang mau kasih 4 atau 5 bintang. Sampai kemudian saya teringat, rasanya novelis Indonesia jarang ada yang semenakjubkan ini. Di tengah maraknya novel-novel roman picisan, Penerbit Bentang berani menerbitkan buku dengan genre yang bisa dikatakan masih jarang ditemui di Negara kita. Apalagi ini karya pertama. Apalagi ini karya penulis Indonesia! Luar biasa. Pada akhirnya, saya kasih juga semua bintang yang saya punya untuk buku ini. Saya sendiri sebenarnya tidak tahu seluk beluk dunia perbankan. Sama sekali tidak tahu. Nah, membaca buku ini ternyata membuat saya menjadi sedikit tahu mengenai gambaran dunia perbankan di Indonesia. Saya sendiri merasa curiga jangan-jangan apa yang ditulis oleh penulis adalah kisah nyata dalam dunia perbankan Indonesia (atau malah pengalaman pribadi?). Hahaha. Habisnya, saya merasa apa yang ditulis dalam buku ini adalah nyata. Ya, saya bisa merasakannya. Penulis menyampaikan semua ceritanya dengan cukup detail dan meyakinkan. Pasti makan waktu yang banyak buat riset, ya? Good point. Itu adalah bukti bahwa tulisan ini adalah tulisan serius.Saya pikir hanya kasus menguak siapa dalang di balik penggelapan uang saja. Ternyata tidak. Nyaris kecewa waktu itu. Mood sudah drop. Hahahaha. Saya sampai berguman, “Hah? Udah nih, gini doang?” Padahal itu baru masuk ke tengah buku lho. But, eits, ternyata kasusnya belum selesai. Sukses mengecoh.Yang menarik dari buku ini adalah bukan mengenai tebakan soal dalang dari semua kasus ini --tidak, itu cukup mudah-- melainkan rencana besar itu sendiri yang ternyata merupakan gabungan puzzle kasus soal konspirasi, politik, dan persoalan pribadi yang terjadi di masa lalu, yang mulai terkuak satu per satu dan perlahan sehingga semakin membuat pembacanya makin gemas saja.Ketegangan di akhir juga sukses mencapai klimaksnya. Klimaks ini mulai terasa di ¾ bagian akhir. Saya tidak bisa menaruh buku ini lama-lama. Saya harus segera menyelesaikannya, pikir saya. Kasus-kasus yang ada begitu membuat saya penasaran akan ending yang cukup sulit saya tebak arahnya. Dan benar saja, buku ini memiliki ending yang cukup tak terduga. Setidaknya, menurut saya.Sampul depan buku ini berwarna merah hati dengan gambar tangan yang sedang memainkan boneka tali. Hm, melihatnya saja saya rasa sudah bisa membuat kita menebak apa dan bagaimana issue utama dalam buku ini. Disajikan dalam 378 halaman, cukup tebal, namun tidak membuat saya merasa bosan. Terdiri dari 41 bab yang pendek-pendek dan penting. So, meskipun tebal, sebaiknya jangan coba-coba skimming ya membacanya karena bisa saja Anda melewatkan hal penting yang justru menjadi kunci dalam kasus ini. Namun, menurut saya, penamaan judulnya kurang WAH. Terlepas dari itu, saya tetap pada niat saya untuk kasih 5 bintang kok. Hehehe… Kemudian mengenai font, baik ukuran maupun type, saya tidak merasa ada masalah. Saat membacanya, mata saya yang minus 6 ini masih terasa nyaman-nyaman saja.Buku ini saya rekomendasikan bagi Anda pencinta novel misteri lokal, yang tidak hanya menyukai misteri namun juga issue mengenai konspsirasi (tanpa kemakmuran), politik dunia kerja, dan dunia perekonomian.Oh iya, saya curiga dengan paragraf akhir yang terdapat di halaman 368-369.Ia pasti tidak akan berpikir panjang untuk turun lagi ke lapangan apabila ada kesempatan bisa merasakan ketegangan dari suatu petualangan. Ia lebih suka mengalami baku pukul daripada harus menghitung berapa kadar kolesterol yang boleh dikonsumsi olehnya.Hmmm, apakah paragraf tersebut berarti bahwa kisah Si Makarim ini akan berlanjut ke seri selanjutnya? Kita tunggu saja :D

  • Farah
    2019-03-14 22:59

    Buku ini tiba di rumah kemarin siang. Gue baru mulai membacanya sekitar jam 9 malam. Dan mungkin sama seperti pengalaman-pengalaman pembaca lainnya yang reviewnya bisa dibaca di sini, begitu mulai dibaca, buku ini memang sulit untuk diletakkan kembali. Tak kurang dari dua jam kemudian, buku ini sudah selesai gue baca.Awalnya gue merasa tuturan kalimat demi kalimat di dalam ceritanya agak boros dalam menjelaskan sesuatu yang sudah jelas atau sedang terjadi. Eh ini gue pake kacamata pembaca awam dalam menilai, ya. Harap maklum, 4 tahun belakangan ini lebih mengakrabkan diri sama ilmu sosial, jadi kurang mendalami ilmu tata bahasa Indonesia.Salah satu contoh yang gue ingat adalah kalimat yang berbunyi seperti ini, "di dalam pesawat yang sedang terbang..."Menurut gue sih, bisa aja penulisnya menuturkan dengan lebih singkat. Seperti misalnya, "di dalam pesawat.." atau, "dalam perjalanan menuju Surabaya.."Gitu.Maksud gue, kan kalau penulisnya bilang, "di dalam pesawat.." toh pembacanya akan tetap berpikir bahwa pesawatnya sedang terbang. Minimal, bentar lagi mau terbang lah apa gimana. Ngga mungkin juga kepikiran kalau pesawatnya lagi ngambang-ngambang di air..Ya itu sih menurut gue.Sebenernya buat gue sendiri, thrillernya masih kurang berasa bikin deg-degan. Gue pikir tipe-tipe thrillernya bakalan yang mafia abis gitu. Entah yang dikejar-kejar sampe malang melintang melintasi pinggiran kota yang padat, terus sembunyi, terus lari lagi, terus ada tembak-tembakan *ciung! ciung!* terus tokoh utamanya ketangkep, digebukin dan diinterogasi sambil diiket di kursi, terus disiksa-siksa, jempol kakinya digosrek ke parutan keju gitu.Ya mungkin gue juga terlalu banyak berekspektasi, dan kurang nonton film. Tapi menurut gue, thriller yang sangat keren itu adalah thriller yang bikin pembacanya ikutan ngilu. *apa deh*Tapi pas baca buku ini, gue sempet juga sekali kepikiran, "loh ini cerita tentang kasus fraud perbankan.. Mana setannya?".....*krik, krik, krik, krik*....Thriller itu beda ya sama horor, FARAH, PLIS DEH.Yah mungkin reaksi gue beda ya sama Selvi yang sempet kepikiran, "udah nih gini doang?"Kalo reaksi gue, karena gue ngerasa ngga begitu paham sama dunia perbankan dan segala aktivitasnya, jadi begitu kasusnya (gue pikir sudah) terungkap, gue cuma mendesah dalam hati, "oh.. begitu rupanya."Kemudian setelah gue selesai membaca buku ini sampai habis, sebelum gue sampai kepada epilognya, entah kenapa yang ada di kepala gue adalah sinetronnya Dede Yusuf jaman gue kecil dulu. Somehow gue merasa action di dalam cerita ini begitu mirip dengan kisahnya Dede Yusuf itu. Ada yang masih inget ga itu judul sinetronnya itu apa? Kalo ga salah sih ditayangin di SCTV. Jaman dulu banget, pas Dede Yusuf masih muda dan keren gitu. Yang ada adegan dia keseret-seret metromini gitu. Apa ya nama sinetronnya?*masih berusaha mengingat-ingat, tapi kemudian memutuskan untuk membaca epilog*Oh begini toh akhir ceritanya.Akhirnya mbak-mbak teller itu hidup bahagia....*ternyata yang kebayang adalah mbak Teller cantik berkerudung di BNI kcp Kemang Pratama Bekasi..*Tapi gue pikir, buku ini menghadirkan warna yang baru di dalam koleksi gue yang biasanya penuh dengan romance atau kegalauan.Ngga terlalu banyak istilah perbankan yang dipakai di dalam buku ini. Jadi pembaca awam seperti gue pun masih bisa menikmatinya tanpa harus bersusah-susah memikirkan, "ini istilah apa maksudnya sik ah?!" kemudian membanting bukunya ke lantai.Gue rasa tidak akan ada kejadian seperti itu. Buku ini juga minim typo. Atau mungkin gue yang ngga teliti ya. Sampe gue merasa tidak menemukan typo.Gue berharap si penulis mau menuliskan buku lagi yang mungkin mengangkat tema cerita lain yang sama menariknya. Misalnya, kehidupan seorang guru Geografi di pinggiran Bekasi yang penuh lika-liku, atau apa lah.Atau kisah seorang lulusan Jurusan Ilmu Perpustakaan yang mencari cinta sejati diantara belantara kota metropolitan yang membakar mimpi-mimpinya bersamaan dengan asap knalpot motor maticnya atau apa dan gimana, gitu.Atau kisah seorang perempuan berinisial FN yang selalu gagal dalam berusaha menulis novel pertamanya karena memang dia pemalas dan tidak punya motivasi, atau apa gitu.Yah, kalo emang si penulis tertarik untuk menuliskan salah satu cerita di atas menjadi novel keduanya, dia tau harus mencari narasumber kemana.Sudah ah.The End.

  • Desty
    2019-02-26 19:00

    Makarim Ghanim bukan seorang detektif. Tetapi pengalamannya di bidang ekonomi dan manajemen membuat kawan lamanya, Agung Suditama, meminta bantuannya untuk menyelidiki kasus internal di sebuah bank besar tempatnya bekerja sebagai Wakil Direktur. Agung memintanya untuk mencari tahu siapa pelaku yang menghilangkan dana 17 miliar milik Univeral Bank of Indonesia (UBI). Makarim sendiri sebenarnya pernah terlibat di dalam penyusunan sistem manajemen kepegawaian ketika UBI mengalami reformasi. Hal ini menjadi salah satu pendorong yang membuatnya akhirnya menerima kasus itu. Ditambah lagi dia butuh kesibukan pasca perceraiannya dengan istrinya. Makarim hanya perlu menyelidiki 3 orang karyawan UBI bernama Rifad Akbar, Amanda Suseno, dan Reza Ramaditya.Tidak butuh waktu lama bagi Makarim untuk menyelesaikan laporan penyelidikannya. Namun perbincangannya dengan istrinya terkait kasus yang sama yang menimpa sebuah bank swasta di tahun 2004 membuatnya kembali berpikir. Dana itu tidak hilang. Ada orang yang sengaja merusak sistem pelaporan dan hendak menyampaikan pesan kepada jajaran Direksi. Makarim kembali membuka dokumen-dokumen yang diberikan kepadanya, dan semua itu membawanya kepada satu nama baru, Ayumi Pratiwi. Siapa dia dan apa hubungannya dengan kasus ini?Awalnya saya berkenalan dengan karya Tsugaeda justru lewat buku kedua, Sudut Mati. Dari sana saya jadi penasaran dengan buku pertama. Akhirnya dengan bantuan seorang teman saya mendapatkan buku ini. Tidak banyak karya penulis Indonesia di genre thriller seperti yang ditempuh oleh Tsugaeda, apalagi berhubungan dengan kasus ekonomi perbankan.Saya sempat khawatir akan sulit mencerna isi buku ini, karena saya awam di bidang perbankan itu. Sementara background yang dibangun di dalam novel ini kental dengan kegiatan di bank. Ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti, saya bisa melahap buku ini dengan mudah dan tentu saja membuat adrenalin dan emosi saya ikut terpompa. Buku ini bukan hanya membahas kasus hilangnya dana di UBI, tapi juga masalah hak buruh dan bandar narkotika. Karena saya sudah membaca buku kedua dari penulis, saya sudah tahu karir Makarim sebagai detektif "jadi-jadian" tidak berhenti. Rasanya saya ingin sekali bertanya kepada penulis, kapan buku ketiganya terbit..hehe. Dan ohya, ada yang mau kasih bocoran tidak siapa pemuda dan perempuan yang ada di prolog buku ini?

  • Frida
    2019-03-05 19:20

    Saya dapat novel ini dari GA yg diadakan Kak Ren (renslittlecorner.blogspot.co.id) dan bukunya ternyata dikirim langsung oleh Tsugaeda, plus tanda tangan. Sebentar, saya ingin tanya sama Mas Tsugaeda, Mas penggemar novel John Grisham?Saya memang baru baca satu karya Grisham, yaitu The Firm, dan saya juga baru satu kali baca novel Tsugaeda, tapi saya langsung menghirup aroma khas thriller Grisham dalam Rencana Besar. Bedanya, di The Firm, tokoh utamanya adalah pegawai institusi yg sedang disorot, sedangkan di Rencana Besar tokoh utamanya adalah orang luar. Kalau di The Firm saya belajar hukum, kalau di sini saya dicekoki istilah-istilah perbankan. Kalau di The Firm, pembaca sudah tahu sejak cukup awal tentang rencana besar yg sedang berjalan, hanya menanti si tokoh utama berhasil memecahkannya. Tak begitu di Rencana Besar. Tsugaeda menyembunyikan rencana besarnya sebagai teka-teki, baik bagi Makarim, maupun bagi pembaca.Saya mau mengapresiasi keberanian Tsugaeda nyemplung dalam dunia literasi genre thriller lokal yg pemainnya sedikit ini. Dari yg sedikit itu, ia juga berhasil jadi yg tidak abal-abal. Namun, saya kecewa krn novel ini thrillernya nanggung. Bagi saya, novel thriller yg bagus itu yg sudah mengejutkan dari awal, tempo plotnya cepat, dan pemecahan kasus yg tak terduga. That's why saya tak terlalu suka novel thriller Grisham dg plot merangkaknya itu. Baru di sekitar sepertiga akhir saya menangkap keseruan plot Rencana Besar. Sebelum-sebelumnya, plotnya lambat dan agak membosankan. Namun, saya juga bersyukur penulis menciptakan Makarim sbg manusia biasa yg kelewat biasa. Maksudnya, bukan jenius nggak kira-kira seperti Mitch di The Firm. Makarim juga sering bingung, kadang tertipu, dan terlihat plegak-pleguk dlm menyelidiki. Yah, namanya saja bukan Sherlock Holmes atau Poirot.Review versi lengkap bisa dibaca di sini: http://kimfricung.blogspot.co.id/2016...

  • Ari
    2019-03-22 02:00

    Buku tantangan #1 reading challenge Agustus; novel lokal.Sengaja bikin challenge ini biar gw lebih termotivasi to dig local gem #halah #prettMakarim Ghanim, seorang konsultan sumber daya, dimintai tolong temannya untuk mengusut penggelapan dana sebesar 17M. Akan tetapi as the investigation goes, Makarim menguak bahwa kasus yang tampak seperti penggelapan dana itu hanyalah awal dari sebuah rencana besar.Di luar dugaan ceritanya seru dan lumayan rapi meskipun bukan tanpa cela.Pada sebuah cerita thriller misteri pengungkapan siapa penjahatnya dan modusnya itu penting. Percuma lo ngebangun misterinya rapi jali tapi tiba-tiba ada pov si penjahatnya mengungkap motif dan modusnya. And that's what happened here.Sebenernya hal itu pun bisa diterima kalo melihat Makarim's incapability as a amateur sleuth (yaiyalah... dia kan cuma konsultan sumber daya, bukan sherlock holmes atau pun conan... )Pun karakter Makarim ini aneh menurut gw. Sebagai seorang ahli/konsultan sumber daya yang bonafide, he strikes me as mudah mengambil kesimpulan, mudah goyah, emosional, gegabah... Karakter seperti itu gak cocok di line work-nya dia.Kemudian (view spoiler)[ I don't think Reza's dead was necessary(hide spoiler)]Well anyway... gw terhibur dengan buku ini (^..^)v

  • A.A. Muizz
    2019-03-20 20:10

    Membuat saya merasa harus membaca Sudut Mati.

  • Desy Bachti
    2019-03-02 00:04

    "Perusahaan tidak membuat pegawai bekerja dengan nyaman dulu, tetapi sudah dirancang kompetisi yg tidak masuk akal. Apa yang terjadi kemudian mirip keadaan di penjara. Komunitasnya dibangun dengan ketakutan. Ketakutan dipecat. Ketakutan tidak makan. Ketakutan dianggap orang yang tidak mensyukuri nikmat apabila sedikit saja kita memprotes perlakuan-perlakuan ini."Eh buseet, jadi inget perusahaan yg itu. Yg etos kerjanya mengaku indonesia tapi turunan jepang jaman romusha. Hehehe..3 hal yg bikin saya langsung kasi 4 bintang bahkan disaat bab 1 belom selesai saya baca :1. Novel indonesia pertama tentang criminal-thriller yang benar-benar bikin saya tertarik.2. Penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar, pemilihan kata-kata yang rapi dan enak dibaca.3. Pengetahuan penulis tentang dunia kerja, lembaga keuangan dan resource management yang gak nanggung. Jujur, buku ini saya raih berkat obralan di salah satu toko buku online. Maklum, buku indonesia biasanya baru rajin saya beli kalo ada obralan doang. Mungkin faktor pengetahuan buku indonesia saya kebanyakan terdiri dari metropop, yang kalaupun bagus biasanya ceritanya gak melekat dikepala dan kalo disuruh cerita ulang biasanya saya lupa. Bukannya gak nasionalis sama karya anak bangsa, tapi ya mau gimana, otak saya suka gak nyampe. Kebanyakan yg nasional itu kalo gak bahasanya 'gaul-jakarta' banget, atau yg serius malah puitis banget. Sediih otak ngepas kayak saya suka gagal paham.Imajinasi saya bermain saat baca novel ini. Perwujudan karakter makarim yang bagi saya terlihat seperti sosok seorang robert langdon. Walaupun mengaku tidak terlalu cakap berkomunikasi tapi ternyata punya jiwa detektif tingkat tinggi dan super curious. Lika liku kisah di novel ini pun sebagian besar terpapar berkat kecurigaan-kecurigaan beliau. Dia harus bisa menemukan benang merah diantara hilangnya uang sebesar 17miliar di UBI (universal bank of indonesia) dengan 3 tersangka pelaku bernama rifad, amanda dan reza. Tersangka yg disodorkan oleh agung suditama-wakil direktur UBI. Belum lagi sosok ayumi pratiwi yang tidak pernah disebut-sebut sebelumnya tapi ternyata adalah pegawai UBI yg entah kenapa, data pegawainya tidak ditemukan di sistem kepegawaian UBI. Profesi makarim yg semula adalah pakar manajemen sumber daya, berubah menjadi private investigator demi mengungkap kebenaran dibalik hilangnya uang 17 miliar dan siapa pelaku sebenarnya.Hufh, setiap lembar demi lembar yang saya baca membuat saya terus penasaran akan seperti apakah akhirnya. Happy ending kah? Sad ending? Atau mungkin terlalu cheesy? Yg jelas, novel ini mampu membuat mata saya melek sepanjang malam dan tak menyerah sampai ke halaman terakhir.Two thumbs up!

  • Indah Threez Lestari
    2019-03-21 21:16

    771 - 2015Actually, sebagai orang yang bekerja di industri perbankan, aku mengalami kesulitan untuk menghubungkan buku ini dengan kenyataan.Pertama, pernyataan bahwa skala Universal Bank of Indonesia (UBI), bank menjadi pusat cerita novel ini, yang disebut sudah masuk dalam lima bank besar di Asia Tenggara, terutama pada tahun 2012 yang menjadi setting buku ini. Well, bank-bank di Indonesia belum masuk dalam 5 besar dari sisi modal dan kapitalisasi pasar. Beda ceritanya kalau kita bicara tentang laba tertinggi dan pertumbuhan aset tercepat.Kedua, jabatan ketiga orang yang masuk ke dalam daftar tersangka levelnya masih asisten manajer, terlalu jauh dengan level dewan direksi, sehingga aku tidak bisa diyakinkan kalau mereka bisa punya pengaruh yang besar. Yah, seharusnya aku memandang dari sisi bank yang dijadikan model untuk UBI sih, yang bisa jadi struktur organisasinya tidak sebesar bank tempatku bekerja. Perbandingannya memang jadi tidak apple to apple.Anyway, namanya juga fiksi, anggap saja novel ini bersetting di Indonesia di dunia lain. Meskipun tidak begitu bisa klik dengan ceritanya, aku tambah satu bintang deh untuk temanya yang tidak biasa buat novel Indonesia. N.B. Kalau boleh nitpick sekali lagi untuk hal yang mungkin sepele bagi pembaca lain, baru di bab satu aku sudah membuat catatan untuk pemilihan kata yang kurang pas, waktu tokoh Agung Suditama mengenalkan diri sebagai direksi termuda di UBI.Direksi itu bermakna jamak, sekumpulan orang yang menjadi pengurus sebuah perusahaan. Akan lebih pas bila si tokoh mengenalkan diri sebagai anggota direksi termuda, atau direktur termuda.Well, meskipun aku seorang pemerhati kelirumologi dan doyan mencoba meluruskan sesuatu yang keliru sehingga nyaris mendekati grammar nazi (atau malah sudah?), aku bukan tipe pembaca yang cukup telaten untuk membuat daftar typo dan merasa tidak punya cukup waktu untuk itu. Jadi catatan tambahannya cukup sampai di sini saja.

  • Sayfullan
    2019-03-21 18:26

    Novel yang sangat menarik dan akan menjadi salah satu novel favoritku.Novel Rencana besar ini memiliki narasi penceritaan yang lugas, jelas, namun tidak kaku membuat aku tak bosan membaca tiap babnya yang selalu memberikan clue.Di tiap bab, sepertinya rasa penasaran pembaca (termasuk aku) terus ditarik ulur, membuat aku sangat sulit harus lepas sebelum lembar akhir dan penyelesaian ending novel ini aku baca dan temukan.Apalagi, muatan tentang informasi perbankan serta sistem dalam sebuah bank besar di novel karya tsugaeda ini, menarik dan memberikan poin tersendiri bagi pembaca, khususnya aku yang tidak berkecimpung dalam dunia banker.Ah, membaca novel ini jadi ingat teman-temanku yang sekarang menjadi bankir dengan jalur khusus, seperti ODP. Apakah sekeras itu pendidikan dan pelatihan meraka? Dan benar jika mereka mengeluh sering pulang malam, lembur sudah seperti santapan harian sih!Dan akhirya untuk kisah yang begitu membuat rasa penasaranku membuncah, bintang 4 pantas kuberikan untuk Rahasia Besar. Terlebih, aku sangat suka novel ini :)

  • Eflina Sinulingga
    2019-02-23 18:13

    a big hit from the next big thing in Indonesian modern literature :)) what can i say? i probably will give a very bias review since i know the author well. BUT, considering how much i love reading and novel and detective thriller kinda thing, i must say my opinion is purely based on the quality. I am more familiar with western fiction, simply because i find Indonesia still lacks of good novel. But, reading this novel for the first time, i felt like i was holding Dan Brown's! but not Stephen King (yet?). talk about the horror. I am excited for the next novel! Good luck! Eflin (Good morning from London!)

  • Utami Pratiwi
    2019-03-23 23:23

    sebelum menyelesaikan baca novel ini, saya intip beberapa komentar rangorang. dan saya mengamini juga sih. di bagian awal banyak penjelasan yang ini itu yang sebenernya emang bermanfaat untuk cerita di bagian belakang. tapi aslik deh bikin agak males bacanya. ehehehe. tapi separuh ke belakang, novel ini badas banget. keren, sedih, haru, luar biasa. jadi pengin punya temen-temen hebat, atau tergabung dalam tim hebat. tapi nggak usah ding, malah mumet. mending jadi orang biasa yang menyaksikan #apaansihgejebanget 😂

  • Ren
    2019-03-14 02:09

    Trims Tsugaeda buat novelnya :)Yah, yang namanya thriller plus konspirasi itu ngga perlu yang sok - sokan ala Robert Langdonnya Dan Brown kok. Ga perlu yang cari harta karun atau mecahkan simbol - simbol unik (no offense, pleaseee). Apa yang kejadian di Rencana Besar itu ya bisa kejadian di Indonesia juga. Jadi temanya ini lebih mengena sama keadaan saat ini.Cuma, ini Makarim mau dibuat kayak Robert Langdon ya? :P Kalau baca endingnya, sepertinya akan ada petualangan baru buat dia, hehehe

  • Yavianti Yavianti
    2019-02-26 20:22

    selalu menyenangkan membaca buku yg sesuai selera. Tapi lebih menyenangkan lagi membaca buku yg menambah wawasan kita. Buku ini salah satunya. Walau mungkin ga se booom Sudut mati, tapi tetep saja buku ini keren. Saya suka.

  • Pretty Angelia
    2019-02-27 01:21

    Kerennnn! Suka sama plotnyaaaa! Penjabaran karakternya juga dapet. *masukin ke list favorit*

  • Lila Cyclist
    2019-02-25 23:03

    kejahatan perbankan yang rumit tapi seruuu.Semoga bisa nambah review lengkap. Nanti :D

  • Happy Hawra
    2019-03-08 19:14

    keren, mas tsugaeda. dibikin tontonan serial kayak drama detektif-detektif korea pasti luar biasa. kalau ini dibikin drama serial/sinetron, saya mau deh nonton sinetron indonesia lagi.

  • Wardah
    2019-03-22 01:19

    Jadi, saya memang punya kebiasaan menamatkan buku secara random dan tidak sesuai dengan rencana saya. Awal minggu ini padahal saya berencana menghabiskan Inkheart dan Murder in Mesopotamia, tetapi apa daya, begitu Rencana Besar sampai di tangan sama sekali tidak bisa dilepaskan lagi.Dan berhubung ternyata ada lomba review Rencana Besar dari Bang Tsugaeda, sekalian aja deh bikin review yang serius(?), siap tahu beruntung dan menang. :V Saya juga ga ada rencana buat beli Rencana Besar. Tapi kemudian seisi BBI pada ngomongi ini. Terus pas ke Jogja Book Fair ada diskon 30% dan saya langsung tergiur. Sehingga buku ini pun akhirnya mendarat di tangan saya. Saya emang lemah sama yang namanya diskon buku. =_=Well, langsung saja....Pertama, soal ide, cerita, dan lainnya. Rencana Besar punya ide yang unik. Beda. Di saat rak-rak buku dibanjiri cerita berbau roman, novel ini ikut nangkring di toko buku. Saya jadi inget masa-masa nemuin Negeri Para Bedebah-nya Tere Liye. Nah, ini novel sejenis gitu. Beda, unik, mengesankan. Saya pikir awalnya cenderung ke misteri-detektif (yang tanpa detektif gitu) begitu baca. Tapi begitu melewati setengah buku, konspirasi-konspirasi muncul. Saya sendiri lebih senang membaca novel misteri, yah saya penikmat Agatha Christie meski bukannya tidak suka yang semacam konspirasi begini sih. Terlebih setting-nya itu deket banget. Meski saya buta apapun tentang bank, tapi Bang Tsugaeda memberikan gambaran yang sangat detail tentang urusan ini, jadi saya menikmatinya dan bisa membayangkannya.Dai goodreads sih tahunya Rencana Besar itu novel thriller, yang meski ga semacam thriller yang saya bayangin ga ada adegan heroik dan menantang mautnya, eh ada sih, tapi yah ga sebegitu nge-thrill-nya, dua per tiga terakhir novel ini bikin saya merinding. Ceritanya disusun dengan apik. Semua misterinya diungkapkan dengan begitu baik. Perlahan-lahan dan setahap demi setahap. Membuat pembaca mengingat petunjuk di halaman-halaman depan dan berseru, "Ohh, begitu toh."Soal ide, saya salut. Ini novel anti-mainstream keren yang saya temui di perbukuan Indonesia saat ini. Semoga ada karya berikutnya yang sekeren--atau lebih keren lagi--dari ini. :DSoal ceritanya sendiri juga ga kalah keren. Tentang petualangan Makarim menemukan siapa pelaku penggelapan uang sebesar 17 miliar di UBI. Makarim, yang sebenarnya bukan detektif dan seorang konsultan sumber daya manusia, menyelidiki kasus ini karena dimintai teman lamanya, Wakil Direktur UBI, Agung. Eh siapa sangka bahwa permintaan ini membawa Makarim kepada skandal yang lebih besar. Penggelapan uang ini ternyata membawa Makarim kepada misteri yang lebih besar. Bukan hanya tentang tiga orang yang dicurigai sebagai tersangka, yaitu Rifad, Reza, dan Amanda, tapi juga tentang Ayumi--sesorang yang ternyata sudah meninggal sebelum kasus ini terjadi.Cerita misteri yang dibangun dalam Rencana Besar ternyata bukan secetek "penggelapan uang" saja, melainkan lebih dari itu. Dan ini membuat saya semakin tidak bisa melepaskan novel ini begitu sampai pada bagian Makarim mendapatkan info tambahan bahwa penggelapan uang itu--yang ternyata bukan penggelapan uang--dimaksudkan sebagai gertakan karena kematian Ayumi. Saya senang cara Bang Tsuageda membawa pembaca mengikuti perjalanan penyelidikan Makarim, juga cara Bang Tsugaeda membangun rasa penasaran para pembaca.Meski sebenarnya, saya lebih suka jika semua misteri itu dibeberkan oleh Makarim. Atau paling tidak, Makarim mencoba menelusurinya, mencari titik terangnya, bukan diceritkan begitu saja seakan novel ini berpindah tokoh utamanya. Bukan lagi Makarim, tapi Rifad, Reza, dan Amanda sejak memasuki halaman-halaman flashback. Apalagi ketiga orang itu terkesan seperti ... "The Chosen One" (or three?). Duh, kok aura misteri-konspirasi-nya malah meluntur ya buat saya?Kedua, soal karakter. Saya suka karakter Makarim. Teliti, penuh pertimbangan, tipikal yang pas banget buat jadi semacam tokoh detektif dalam cerita-cerita misteri. Tapi juga ada cela dan kekurangan. Masalah sama keluarganya, perselisihan sama istrinya, dan tindakan-tindakannya itu menimbulkan simpati pas membaca. Tipe karakter yang ga bisa dibenci dan dinantikan petualangannya--kalo misal Makarim bakal punya cerita misteri berseri semacam Miss Marple atau Poirot-nya Agatha Christie sih.Karakter yang lain, Rifad, Amanda, dan Reza, yang dicurigai sebagai pelaku penggelapan itu juga karakter yang lumayan. Mereka terkesan sebagai karakter yang begitu super, punya kehebatannya masing-masing, dan seperti yang saya bilang sebelumnya, "tokoh spesial" dalam cerita ini. Meski karena masing-masing punya kekurangan, ketiga orang ini ga terlalu terkesan jauh. Lumayan membumilah.Soal karakter Agung sendiri, well dia pas banget buat karakter yang begini. Ambisius, oportunis, tipe-tipe yang memang cocok melakukan tindakan apapun--bahkan kriminal--untuk mendapatkan apa yang dikehendaki.Lalu, soal plot dan alur. Di awal novel ini membosankan. Terlalu bertele-tele. Bagian prolog-nya jujur tidak membuat saya penasaran. Yang ada justru merasa novel ini membosankan. Hal-hal yang sama diulang berkali-kali sehingga saya merasa bosan. Meski prolog-nya akhirnya ditutup dengan baik dan saya jadi pengen tahu itu ada di bagian mana dalam cerita.Di chapter-chapter awal juga membosankan. Mungkin karena Bang Tsugaeda sedang berusaha memberikan gambaran pekerjaan Makarim dan dunia perbankan kali ya, jadi banyak penjelasan dan detail-detail. Penting sih, tapi tetep aja bikin bosan.Selewat dari itu, begitu memasuki bagian Makarim terbang ke Surabaya, saya mulai tidak bisa melepaskan novel ini. Alurnya dibangun dengan rapi, setahap demi setahapn hingga mencapai klimaks. Dan ini keren banget! Meski tetep aja saya bakal lebih suka kalo bagian kilas balik ini ga dibeberkan begitu saja sehingga mengurangi citra Makarim yang tokoh utama.Cuma yah saya udah mulai bisa nebak cerita ini sejak tahu hubungan di balik Rifad, Reza, dan Amanda dengan Ayumi. Saya masih tahan untuk mengikuti Rencana Besar halaman per halaman, tapi setelah peristiwa 1 Mei itu, saya skimming, memastikan semua misteri sudah terpecahkan dan memang berakhir seperti yang saya kira--juga seperti yang penulis berikan lewat petunjuk. Setelah skimming baru deh saya baca lagi dengan benar. :DAda ending yang tidak bisa saya tebak. Soal pernikahan itu. Wah sungguh saya tidak pernah mengira ternyata ada begitunya. Selain itu, saya suka bagaimana Bang Tsugaeda menutup kisah ini. Terlebih saya suka bagaimana petualangan ini membuat perubahan dalam hidup Makarim. Semacam, Makarim mendapat lebih daripada itu semua gitu. Konklusi yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri.Overall, Rencana Besar keren. Ga heran rating yang dikasih goodreads dan BBI juga bagus. Meski, buat saya, judulnya itu kurang "eye-catching"....Yah, pokoknya rekomendasi deh buat yang suka misteri. Apalagi misteri lokal yang keren. Rencana Besar worth it banget buat bacaan. :DDan saya kasih 4 bintang, buat idenya yang unik, temanya yang ga biasa, misterinya yang berhasil bikin penasaran, alurnya yang apik, ceritanya yang disusun rapi, karakternya yang bikin jatuh hati tapi nama Makarim kurang "macho" deh, dan bukunya yang ga bisa dilepas. Juga karena membawa angin segar di dunia misteri lokal. Waiting for more!

  • Chacha Liztya
    2019-03-13 01:07

    Misteri Di Balik Rencana Besar- Sebuah Review Novel karya Tsugaeda -Judul: Rencana BesarPenulis: TsugaedaPenerbit: Bentang Pustaka (Mizan Group)Edisi: Soft coverISBN: 6027888652ISBN-13: 9786027888654Tahun Terbit: 2013Tebal: 387 halamanList Price: Rp 58.000,-Rating: ★★★★Apa yang terpikirkan ketika kita mendengar kata Rencana Besar? Wah pasti pikiran kita melayang pada hal-hal yang spektakuler, megah, surprise, dan membuat kita excited sekaligus penasaran. Begitu juga reaksi saya ketika melihat sebuah novel bersampul merah berjudul Rencana Besar. Rasa penasaran membawa saya membaca sinopsis cerita. Wow, kilasan ceritanya menarik. Sebuah kejutan bagi saya yang suka dengan novel thriller dan detektif. Gambar marrionette alias boneka puppet yang digerakkan dalang menambah kesan misterius.Tokoh utama dalam Rencana Besar adalah Makarim Ghanim, seorang konsultan ahli tentang sumber daya manusia yang mempunyai perusahaan sendiri yaitu Makarim G. & Co. Makarim sosok yang detail, penuh teka-teki, dan cukup tenang. Kariernya cukup gemilang tidak berbanding lurus dengan kehidupan rumah tangganya. Di usia kepala empat hidup sendiri semenjak perceraiannya. Suatu hari dia didatangi Agung Suditama, temannya (rival?) semasa kuliah. Temannya itu yang juga merupakan wakil direktur Universal Bank of Indonesia (UBI) menawarinya untuk menyelidiki permasalahan di dalam bank. Masalah besar yang membuat Agung tidak bisa memakai orang luar yang tidak bisa dipercayainya karena menyanggkut kredibilitas bank. Bagaimana bisa uang sebesar Rp.17 MILYAR raib dari pembukuan UBI???Apakan Makarim langsung menerimanya? Otak bisnis Makarim tetap jalan dong. Business is business. Agung menjanjikan DUA MILYAR apabila Makarim mampu menguak tabir pelaku yang menggelapkan uang. Agung tidak datang dengan tangan hampa. Penyelidikan internalnya menemukan tiga nama yang diduga adalah pelaku yang menyebabkan raibnya uang 17 M.Rifad Akbar, seorang lelaki yang keras dan tangguh. Dia adalah asisten manajer treasury UBI Jawa Timur. Dia aktif memimpin Serikat Pekerja dan vokal dalam memperjuangkan hak para buruh.Reza Ramaditya, lelaki cerdas dengan karier gemilang. Dia merupakan asisten manajer operasional UBI Jawa Timur. Sayangnya tiba-tiba dia seperti kehilangan semangat kerjanya tanpa alasan yang jelas.Amanda Suseno, wanita yang menarik dan pintar melihat peluang. Dia menjabat sebagai asisten manajer marketing UBI Jawa Timur. Dia dipercaya dan ‘dianak emaskan’ oleh manajemen.Rasa penasaran Makarim terusik. Makarim yang tertarik dengan tantangan (dan iming-iming 2 Milyar) menerima tawaran Agung. Dia segera ‘cuti’ dan terbang ke Surabaya untuk memulai penyelidikan. Kedok sebagai calon nasabah diterapkannya untuk mendekati ketiga karyawan UBI Jatim yang dicurigai sebagai pelaku.Ketajaman intuisi Makarim dan teknik penyelidikan yang profesional membuatnya mampu menemukan pelakunya. Tapi apakah petualangan Makarim hanya sampai di situ? Nyatanya ada yang lebih besar dari ‘sekedar’ penggelapan uang 17 Milyar. Kasusnya makin berkembang dan memunculkan nama baru yang tak pernah disangka. Ada rencana yang jauh lebih besar yang tersimpan di balik semua itu. Penasaran dengan kelanjutannya. Silakan teman-teman membaca karya Tsugaeda yang dibalut dengan intrik dan teka-teki yang apik dan membuat penasaran.Novel Tsugaeda yang mengangkat tema fraud dalam dunia Perbankan ini sangat menarik dan jarang ditemui tema serupa dalam novel masa kini yang kebanyakan mengangkat tema cinta, persahabatan, dan genre umum lainnya. Poin plusnya novel ini mampu ‘dicerna’ oleh pembaca yang tidak berlatar belakang bidang ekonomi atau perbankan. Ketika membacanya saya teringat dengan cerita detektif. Petualangan Makarim Ghanim membuat saya terbayang dengan penyelidikan Sherlock Holmes atau Hercule Poirot dalam memecahkan misteri. Novel ini cukup memberi angin sejuk dan menyegarkan dahaga pembaca Indonesia yang haus akan kisah thriller dari anak negeri.Menilik mulai banyaknya kasus perbankan di dalam negeri seperti Bank Century dengan Robert Tantular sebagai aktornya, kemudian Citibank dengan aktris senior relationship manager (RM) Malinda Dee membuat novel ini terlihat ‘nyata’ . Pada dasarnya fraud terjadi karena ada kesempatan. Apalagi sebagai karyawan tentu punya peluang lebih besar. Nyatanya kadang kasus perbankan tak hanya melibatkan oknum tapi kepentingan kelompok tertentu atau kadang politik. Walau Makarim ‘hanya’ konsultan SDM, di mata saya dia mempunyai potensi besar sebagai akuntan forensik atau auditor investigasi. Profesi ini masih belum begitu ‘nampak’ di Indonesia tapi sangat berperan dalam menguak kejahatan finansial. White collar crime alias kejahatan kerah putih justeru lebih besar dampaknya daripada kejahatan biasa. Ingat kejahatan itu bukan karena hanya ada niat, tapi ada kesempatan (Pesan Bang Napi!!).Terlepas dari semua suspense alias ketegangan yang saya rasakan selama membaca novel ini ada beberapa hal yang sedikit mengganjal hati saya. Latar kota Surabaya sebagai ‘panggung sandiwara’ kurang begitu terasa. Karakter tokoh yang sama kuat membuat saya hampir lupa kalau Makarim adalah tokoh utamanya. Alur cerita di awal bergerak lambat. Plot dibangun sedemikian cermat sehingga menyusun alur yang tak mudah ditebak. Saat pertengahan novel alur bergerak cepat dengan ‘gigi lima’ sehingga saya loose control ingin cepat mencapai ending. Tapi semakin ke belakang tokoh Makarim malah memudar. Cerita berkembang di luar dugaan saya. Senang sekaligus dibuat bingung. Sebagai pembaca budiman, saya ingin memberikan rating ★★★★ untuk Novel Rencana Besar karya Tsugaeda ini. Overall, saya salut dengan Tsugaeda yang mampu menyajikan secara apik novel ini. Thriller dan ‘aura detektif’-nya dapett!! Saya berharap Rencana Besar bisa dijadikan film layar lebar. Saya membayangkan aktor Lukman Sardi cocok berperan sebagai sosok Makarim yang eksentrik, unik, dan detail . Semoga karya Tsugaeda ini bisa memberi nuansa baru dalam khasanah bacaan remaja atau dewasa dan bisa menginspirasi. Saya sangat menunggu karya lain Tsugaeda yang tak kalah seru dengan Rencana Besar :) Gud luck bro!

  • Larasati
    2019-03-18 19:12

    Awalnya skeptis waktu ngangkat buku ini dari rak. Mana udah buku obralan lagi di Detos, kan kesannya gimana gitu ya. Saya inget berkali-kali udah ngangkat buku ini di kunjungan-kunjungan sebelumnya dan selalu nggak jadi dibawa ke kasir. Tapi pas saya mulai baca, wow wow wow WOW, ini betulan yang nulis orang Indonesia? tumben saya bisa sampe larut sampai kayak gini? DAN KOK TAU-TAU UDAH JAM 3 PAGI AJA?!Jarang-jarang saya mau capcipcup beli buku obralan dan saya sangat sangat sangat beruntung saat itu karena akhirnya bawa pulang buku ini.

  • ula
    2019-02-24 19:20

    Jadi, rencana besarnya seperti itu. Jujur agak sedikit kecewa. Tapi ide ceritanya bagus dan saya suka endingnya.(view spoiler)[lalu apa yang diperbuat Pak Agung untuk menjauhkan Rifad dan Amanda? Dan bagaimana cara Ayumi meninggal beserta cara pembunuhannya? (hide spoiler)]

  • Rasyid Yamin
    2019-03-18 21:19

    Sebelumnya, gue ingin menjelaskan bagaimana gue mendapatkan buku ini.Sebenarnya dari jaman ini buku pertama kali terbit (enggak lama setelah gue mulai kerja) gue udah tertarik untuk beli. Sayangnya waktu itu gue masih skeptis sama cerita thriller lokal, karena melihat beberapa review untuk novel-novel thriller lokal lainnya yang kurang oke. Akhirnya, enggak jadi beli deh.Fast forward sekitar dua tahun kemudian, temen di Serapium, Selvi, menawarkan untuk memberikan buku ini sebagai giveaway. Karena gue bukan tipe orang yang hobi nolak apa aja yang gratis, ya sontak langsung gue daftar sebagai penerima. Akhirnya saat Indonesian Readers Festival 2015 kemarin gue dapet tuh buku. Eh rupanya, di acara itu si penulisnya lagi ada talkshow membahas buku keduanya (yang kebetulan waktu itu sudah gue beli, tapi belum dibaca sampai sekarang). Akhirnya ikutlah itu acara dan setelah selesai sempat berbincang-bincang sama penulisnya. Ternyata orangnya baik lho! Mana dikasih tanda tangan pula ini novelnya :).Oke, karena udah kepanjangan, mari lanjut ke review benerannya.... Rencana Besar, sebuah political thriller (atau work thriller ya?) dari Indonesia Pertama-tama, melihat judulnya saja sudah jelas lah ya, plot seperti apa yang kira-kira bakal muncul. Karena yang namanya thriller itu sudah identik dengan plot twist, jadi gue membaca sambil menunggu kapan ini plot twistnya bakal muncul.Rencana Besar menceritakan sosok Makarim Ghanim (karena namanya, gue membaca sambil membayangkan si owner gojek itu), seorang konsultan bisnis yang sudah terkenal karena dapat menyelesaikan dan memberikan banyak rekomendasi bagus untuk banyak perusahaan dan badan-badan pemerintahan. Makarim diminta bantuan oleh teman lamanya, Agung Sudiatma, yang merupakan wakil direksi di Universal Bank of Indonesia atau UBI. Dewan direksi UBI curiga akan adanya penggelapan dana terselubung yang sangat rapi dan tidak terlacak sebesar 17 miliar rupiah. Menurut Agung, tersangkanya adalah tiga orang pegawai UBI cabang Surabaya:- Rifad Akbar, pegawai UBI yang aktif dalam Serikat Pekerja- Amanda Suseno, pegawai UBI yang ambisius, cerdas, dan pandai memikat lawan bicaranya,- Reza Ramaditya, pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi tanpa alasan jelas.Makarim kemudian berangkat ke Surabaya (dengan dalih berlibur untuk melupakan perceraiannya) untuk menjalankan investigasinya. Dengan berbagai macam dalih, alasan, dan penyamaran, Makarim berhasil mendekati ketiga pegawai tersebut dan menemukan siapa pelaku yang bertanggung jawab untuk penggelapan dana tersebut.Namun, saat ia akan pulang ke Jakarta untuk melaporkan hasil investigasinya, mantan Istrinya yang bekerja di Bank Sentral memberikan informasi kalau kasus serupa ternyata pernah terjadi enam tahun sebelumnya. Rupanya, investigasinya memberikan hasil yang keliru sehingga ia harus mengulang lagi. Dan di saat itulah, ia menyadari bahwa dirinya berada di sesuatu yang sudah direncanakan sebelumnya. Sebuah "Rencana Besar"...---Saya harus akui, penulis cukup pintar memasukkan beberapa plot twist dengan rapi, sehingga tidak kelihatan seperti dipaksakan. Penulis juga memberikan beberapa bread crumbssepanjang awal cerita dan juga red herring menjelang klimaks cerita. Saya akui penulisannya agak stay true to a working formula, seakan ini sebuah novel thriller yang penulisannya sangat mematuhi kaidah cerita thriller. But hey, it works!Yang justru kurang sreg bagi saya adalah para karakternya. Karakter antagonis tentunya sudah bisa dilihat perawakan dan karakternya jauh sebelum klimaks, meskipun penulis dengan pintar menambahkan back storyagar karakter antagonisnya jadi lebih logis. Yang bagi saya tidak konsisten adalah karakter Amanda Suseno dan Rifad Akbar. Jika membandingkan kedua karakter tersebut di awal dan di akhir cerita, kita seakan melihat dua karakter yang sangat-sangat berbeda. Meskipun penulis juga menambahkan back story juga untuk kedua karakter tersebut, rasanya keduanya agak berubah karakter terlalu drastis agar masuk dengan plot.Tapi, yang penting dari cerita thriller toh adalah plotnya. Sekali lagi, saya kagum dengan penulis yang berhasil membuat sebuah plot yang rapi dan pintar membuat pembacanya bisa tertahan agar tidak berhenti membaca. Jadi, sebagai sebuah novel thriller, novel ini saya rasa sukses. Saya sendiri menyelesaikan novel ini dalam jangka waktu tiga jam setengah saja. Dan harus curi-curi agar tidak ketahuan teman kerja karena sedang baca novel yang seru (untungnya suasananya lagi suasana liburan :p)Menurut penulisnya, novelRencana Besar ini berada di satu universe dengan Sudut Mati, novel keduanya. Dan karena sang penulis sudah mengindikasikan ia akan membuat hingga tujuh novel, saya tentu akan menjadi pembaca setianya. Apalagi novel ini juga adalah salah satu novel yang berhasil membuat saya menjadi ingin menulis lagi. Penghargaan ekstra harus saya berikan bagi penulisnya untuk itu :).Rating dari saya adalah 4.5 dari 5 bintang. A very good read!

  • Anastasia Cynthia
    2019-03-19 21:03

    "Rencana Besar" bercerita tentang penyelidikan sebuah kasus hilangnya dana 17 milyar rumah dari pembukuan UBI (Universal Bank of Indonesia). Agung Suditama, wakil direktur UBI, akhirnya ambil andil dan merekrut kawan lamanya, Makarim Ghanim. Makarim bukan seorang intern apalagi detektif, namun Agung percaya bahwa kecerdasan Makarim yang selalu diingatnya sejak hari kelulusan dulu akan dapat membantunya memecahkan kasus tersebut. Makarim memiliki akses penuh untuk melihat arsip-arsip UBI di tahun-tahun belakangan. Dari sebagian banyak karyawan yang bertugas, Agung menyebutkan jika UBI mencurigai tiga nama: Rifad Akbar, Amanda Suseno, Reza Ramaditya sebagai tersangka. Seorang provokator, seorang pembangun, seorang pemikir memiliki motif masing-masing untuk melindungi reputasi UBI. Namun, langkah awal ketiganya tanpa disangka merupakan sebuah titik awal tempat sebuah skenario besar. Lantas, siapalah dalang dari semua penyelewean pembukuan UBI?Memang jarang rasanya menemukan novel thriller-misteri dengan latar belakang budaya Indonesia yang begitu kental seperti "Rencana Besar". Sedikit kaget dengan gaya bahasa gamblang nan kaku yang menyambut di depan. Well, tapi tidak terlalu masalah. Gue tetap menikmati lika-liku kisah seorang Makarim yang digambarkan sewajarnya tanpa muluk-muluk, tidak seperti deketif yang disarati obrolan sarat istilah intelejensi. Masih dapat dinikmati, sekaligus menambah wawasan tentang perbankan. Banyak istilah-istilah kajian yang bertaburan tapi gue rasa ini yang menambah bumbu sehingga "Rencana Besar" menjadi lebih bernyawa dan terkesan unik sebagai sebuah novel misteri.Kalau Tsugaeda bilang ini novel pertamanya. Gue hanya bisa bilang "WOW". Di samping gaya bahasa yang kentara kurang mengalir. Idenya sangat bisa diacungi jempol. Menyusun novel thriller semacam "Rencana Besar" tidak hanya bermodalkan menegangkan, tapi juga ikut terjun ke dalam konspirasi. Pelaku sesungguhnya sebenernya udah dapat gue tebak di bab pertengahan lantaran kebanyak novel/skrip film memang mengambil plot yang serupa, tapi ada sih rasa agak ragu di tiga per empat menjelang akhir. Terutama saat Rifad menunjukkan jati diri sesungguhnya kepada Makarim. Sinopsis di balik sampul buku tentu tidak sanggup menelanjangi gambaran buku ini secara keseluruhan. Gue agak terkejut saat banyak nama-nama bermunculan di samping ketiga karakter utama, Makarim, dan Agung. Dan gak menyangka kalau kasus yang awalnya hanya melibatkan tiga nama malah membawa pembaca ikut terbang ke permasalahan tahun-tahun silam. Saat Rifad, Reza, dan Amanda adalah tiga sekawan dalam grup trainee.Daripada kebanyakan spoiler, mending coba untuk baca bukunya. Memang agak menjenuhkan di awal, tapi di pertengahan, ups, gak bakalan deh, apalagi ada adegan mendebarkannya sekaligus membutuhkan kerja keras otak untuk menerka, siapa dalang dari semua ini?

  • Elsita F.
    2019-03-13 01:10

    CoverSejak pertama kali Novel ini tiba, btw, saya dapat novelnya secara gratis dari ikut KUMIS yang diselenggarakan oleh Warung Blogger dan salah satu hal membahagiakannya novelnya sudah ditanda tangani oleh penulisnya ^_^, hal pertama yang saya lakukan adalah mengagumi cover-nya.Dua tangan yang memegang tali puppet sedikit banyak telah menjelaskan isi keseluruhan dari novel secara singkat dan jelas. Tangan kanan puppet yang terangkat mengindikasikan bahwa boneka kayu tersebut sedang digerakkan oleh seseorang. Dan warna merah nyaris serupa darah yang digunakan sebagai warna dasar mengindikasikan bahwa Rencana Besar yang dimaksud akan memakan korban.SinopsisSaya sangat suka sinopsisnya! Mungkin salah faktornya adalah saat ini saya sedang menggemari novel dengan konflik yang tidak biasa, tidak hanya sekadar bicara cinta dan hal-hal berbau romantisme lainnya. Bagi saya, sinopsis Rencana Besar sangat menarik dan mengundang rasa ingin tahu pembaca.Kekurangan (yang tidak bisa disebut demikian juga sih hehe)Terdapat satu kesalahan penulisan atau typo pada halaman 190. Pada bagian ini diceritakan bahwa Makarim sedang mencari mobil berjenis MPV tapi yang tercetak adalah APV.Isi BukuIsu ketenagakerjaan dan bagaimana kompleksnya masalah tersebut memicu berbagai tindakan seperti salah satunya mogok kerja yang sering kita saksikan pada pemberitaan media adalah tema yang belum pernah saya temukan pada novel-novel yang telah saya baca sebelumnya. Saya sangat suka bagaimana cara penulis menyampaikan latar belakang terjadinya pemberontakan oleh para pegawai UBI. Selanjutnya, bahasa yang mudah dimengerti, istilah-istilah perbankan yang diberi penejelasan secara sederhana membuat buku ini terasa ringan. Pembaca tidak perlu berpikir terlalu keras untuk dapat memahami apa yang dimaksud oleh penulis. Alur yang tidak berbelit-belit juga merupakan poin plusnya. Karena novel ini tidak dimaksudkan untuk membahas kisah cinta dua orang atau beberapa orang, unsur romantisme yang digunakan terasa pas, tidak berlebihan dan tidak mengganggu inti cerita.Hanya saja ada satu bagian yang terasa janggal. Setelah acara Final Young Best Executive Award selesai, mengapa Amanda menurut saja begitu dibawa pergi oleh rombongan preman? Padahal dia bisa saja berteriak minta tolong karena pada saat itu masih ada satpam. Apakah Amanda tidak menyadari keberadaan si satpam? Lalu, siapa sebenarnya mereka, para penculik itu?Itu saja yang sedikit mengganggu selama membaca buku ini. Seolah ada satu teka-teki yang tidak terpecahkan atau tidak dapat saya pecahkan karena kurang memahami :D. Selebihnya, Rencana Besar masuk dalam jajaran novel keren.

  • Biondy
    2019-03-07 20:10

    Judul: Rencana BesarPenulis: TsugaedaPenerbit: Bentang PustakaHalaman: 384 halamanTerbitan: Agustus 2013Rifad Akbar. Pemimpin Serikat Pekerja yang sangat militan dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya.Amanda Suseno. Pegawai berprestasi yang mendapat kepercayaan berlebih dari pihak manajemen.Reza Ramaditya. Pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan jelas.Lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeret tiga nama itu ke dalam daftar tersangka. Seorang penghancur, seorang pembangun, dan seorang pemikir dengan motifnya masing-masing. Penyelidikan serius dilakukan dari balik selubung demi melindungi reputasi UBI. Akan tetapi, bagaimana jika kasus tersebut hanyalah awal dari sebuah skenario besar? Keping domino pertama yang sengaja dijatuhkan seseorang untuk menciptakan serangkaian kejadian. Tak terelakkan, keping demi keping berjatuhan, mengusik sebuah sistem yang mapan, tetapi usang dan penuh kebobrokan....ReviewSuka pakai banget sama novel ini. Duh, bingung gimana cara review tanpa membocorkan cerita ke orang lain....Akhir tahun lalu saya sempat baca satu novel thriller/detektif karya penulis Indonesia, tapi saya tidak suka dengan novel itu. Selain cara penulisannya yang kurang pas, misterinya juga kurang menggigit. Setelah browsing sana-sini, akhirnya saya menemukan buku bergenre sama yang terlihat meyakinykan. Ya, buku ini maksudnya.Yang paling saya suka adalah hubungan antar kejadiannya. Kejadian A bisa terhubung dengan kejadian B, lalu berakibat pada kejadian C dengan runtut dan logis. Selain itu, karakter-karakternya juga menarik. Setiap karakter punya ciri khas yang kuat sehingga saya tidak sulit membedakannya ^^.Untuk ceritanya sendiri, sebenarnya lumayan ketebak. Soal siapa yang melenyapkan uang 17 miliar, serta ada apa di balik UBI berhasil saya tebak. Tapi saya tidak berhasil menebak seluruh plot tentunya :D. Saya suka dengan cara penulis menggabungkan seluruh plot di buku, juga cara mengakhiri ceritanya. Suka dengan adegan puncak yang melibatkan (view spoiler)[Amanda, Rifad, dan Makarim. (hide spoiler)]Lima bintang untuk novel ini. Novel yang sukses bikin penasaran sampai saya begadang bacanya ^^. Semoga penulis akan menghasilkan karya lainnya yang tidak kalah seru dari ini. Mungkin dengan Makarim lagi sebagai tokoh utamanya?Buku ini untuk tantangan baca:- 2014 New Authors Reading Challenge

  • Ariel Seraphino
    2019-03-09 19:10

    Satu lagi buku bergenre thriller dan suspense yang digarap dengan baik oleh salah satu penulis muda Indonesia. Jarang sekali kita melihat geliat buku bergenre seperti ini di dunia literasi kita. Sungguh salut ketika menyadari bahwa cerita yang dihadirkan tidak kalah dengan cerita yang dibuat oleh para penulis hebat dengan genre yang sama. Berkisah tentang sosok seorang konsultan manajemen human resources bernama Makarim Ghanim yang mendapat tugas dari teman lamannya untuk menyelidiki tentang raibnya uang sejumlah 17 miliar rupiah dari sebuah bank bernama UBI. Penyelidikan Makarim ini mengantarkannya pada berbagai peristiwa yang tidak diduganya. Tuduhan tersangka mengarah pada tiga nama Reza, Rifad dan Amanda yang memiliki motif masing-masing dalam posisinya sebagai seorang karyawan UBI yang cukup berpengaruh. Ketiga tokoh yang digambarkan sebagai seorang pemikir, seorang penghancur dan seorang pembangun seolah tergabung dalam mengatur sebuah rencana besar yang berkaitan dengan raibnya uang dalam brangkas bank yang diceritakan cukup besar di Indonesia tersebut. Cerita dibangun dengan sudut pandang orang ketiga yang memungkinkan menjamah seluruh aspek dari setiap tokohnya. Salah satu yang menarik bagi saya adalah cara bagaimana penulis mampu membangun sebuah dialog yang panjang dan begitu detail dalam setiap situasi. Hal ini memungkinkan kita sebagai pembaca tetap berdiam diri di tempat tanpa melepaskan perhatian pada buku tersebut. Seolah-olah kita pelan-pelan digiring pada setiap situasi yang dihadirkan penulis dalam ceritanya. Berbagai konflik dibangun dengan jelas dan cukup terstruktur. Ini adalah salah satu buku yang saya tamatkan membaca dengan cukup cepat. Dari awal membacanya memang sedikit tersendat dan karena masih berusaha merangkai ceritanya. Tetapi kemudian saya membacanya lagi dari bab 14 sampai akhir dalam waktu kurang lebih enam jam. Akhir ceritanya pun saya pikir cukup menarik dan tidak terduga dan hal-hal seperti ini tentu saja menarik untuk dibaca. Tidak ada seorang pembaca pun yang senang ketika dia sudah mampu menebak hasil akhir ceritanya dan benar kejadian. hehehe. After all, sebuah cerita yang bagus telah disuguhkan, salut utk Tsugaeda yang dengan cerita fiksi debutnya ini mampu memikat pembaca buku-buku dengan genre seperti ini. Saya pikir jika buku ini dibuat sequelnya masih akan lebih menarik. Semoga sukses.

  • Eva
    2019-02-28 20:27

    Okeeee... gue ngaku sebelom dikeroyok--gue nggak baca buku ini sampe habis. Serius. Gue mencoba bertahan dan menarik logika, bahwa setidaknya akan ada sesuatu yang menarik dari buku ini. Tapi, oh boy... gue gak sanggup. Yah, semenjak gue tidak membacanya sampe habis, gue rasa gue ga berhak menilai tatanan plotnya maupun twist-twistnya, yang, kalo gue baca dari review lain sepertinya muncul di sepertiga akhir cerita. Jika ada hal yang membuat gue segan membaca buku ini sampe habis maka itu adalah gaya penulisan si pengarang yang menurut gue sama sekali tidak menarik, tidak mengalir. Dia menulis bener2 patah2, singkat dan seringkali nggak jelas. Buat gue, pengarang yang baik itu adalah orang yang berhasil membawa pembacanya masuk ke dalam ceritanya, merasakan apa yang dialami karakter2nya, peduli pada mereka sampe akhir cerita. Hal ini tidak gue dapati dalam Rencana Besar. Ada sejenis uncanny valley yang membuatnya nggak bisa lepas dari imej sinetron Indonesia. Berbeda dengan, andainya, kalau kita membaca Laskar Pelangi. Dari bab pertama aja gue berhasil terhubung dengan dunia si tokoh utama, dengan problem2nya. Dengan kata lain; Settingnya menarik, detailnya hidup. Rencana Besar, tidak memiliki ini. IMHO, seandainya gue adalah editor dan ketemu naskah kayak gini, bakalan gue balikin ke pengarangnya suruh tulis ulang lebih jelas. Deskripsinya malas banget, sumpah! Bukannya gue nuntut deskripsi sok berbunga2 mendayu2 kayak lagu melayu, tapi serius deh--penjelasan kejadian dalam novel ini begitu singkat tapi nggak jelas. Udah cara nulisnya bikin males, misterinya ga terlalu menarik2 amat. Ehh... muncul pula twist tentang gelang misterius yang dipake kelompok serikat pekerja. Pas gue baca, gue sampe tepak jidat. Ini kayak tulisan temen gue semasa jaman SMP. Iya, gue jahat, tapi sumpah itu yang terlintas di benak gue pas baca kalimat itu. I mean... SERIOUSLY? Ini yang terbaik yang bisa lo pikirkan soal foreshadowing??Setelah itu gue langsung nyerah sebab gue tidak mendapati sesuatu yang unik, yang menarik, yang bisa gue belain buat gue tetap bertahan membacanya. Yah... sorry karena bikin review yang tidak mengenakkan buat novel yang ditulis sesama anak bangsa. Gue menghargai usahanya, tapi dia kudu berlatih menulis lebih keras lagi. Keep writing, Tsugaeda!

  • Steven S
    2019-02-28 00:18

    Thriller anak bangsa yang jangan dilewatkan Rencana Besar adalah judul buku yang menarik, salah satu hal yang membuat saya tertarik membeli buku ini sebenarnya adalah lomba review dari penerbit. Tepatnya di bulan Oktober 2013. Waktu itu pun saya baru saja memulai untuk membaca sebuah buku dan menuangkan hasil baca tersebut ke dalam sebuah resensi. Buku ini merupakan cerita menegangkan karya anak bangsa yang jangan dilewatkan.Premis cerita di buku ini menarik buat diikuti, seorang konsultan terkemuka di bidang sumber daya mendapat permintaan tugas dari seorang klien dengan jabatan wakil direktur utama Bank nasional. (terdengar klise?) Bank tempat klien ini berada menemukan sebuah kejanggalan, adanya dugaan fraud oleh pegawai di dalam bank tersebut mengerucut pada tiga orang yang bekerja di cabang kota Surabaya. Tidak tanggung-tanggung kerugian yang dialami sebanyak 17 miliar rupiah. Tentunya hal ini tidak boleh diketahui pihak luar, sebagai bank gabungan pemerintah dan swasta, hal tersebut akan merugikan reputasi yang telah dibangun. Alhasil Pak Makarim bak seorang ahli investigasi berpacu dengan waktu mencoba mengungkap sebuah dugaan kecurangan tersebut. Perjalanan penyelidikan akhirnya mengerucut menjadi sebuah kisah yang jauh lebih besar dari dugaan awal, sebuah rencana besar telah disiapkan dengan matang dan tinggal menunggu waktunya. Apa yang dimaksud dengan rencana besar itu? Bagaimana hasil investigasi sang "detektif"?Plot dan alur cerita dari novel ini memberikan sebuah perjalanan membaca yang cukup menyenangkan. Penulis mengajak para pembaca untuk ikut berpikir siapa yang berada di balik usaha penyelewangan dana kas bank tersebut lewat sejumlah motif dan tentunya mengulik profil masing-masing orang yang dicurigai. Tsugaeda berhasil menyusun cerita dengan apik, semua benang merahnya terjalin dengan rapi. Di babak akhir, terdapat sejumlah cliffhanger yang ditempatkan dengan baik. Hal ini tentunya menambah keseruan dalam membaca. Adegan kejar-kejaran mobil bak film aksi pun ada di buku ini. Singkat kata, dunia bank yang menjadi latar cerita rencana besar dapat dieksplorasi dengan baik di buku ini. Buku ini layak dibaca untuk Anda pecinta kisah thriller, cerita kriminal. Mari apresiasi karya anak bangsa dengan membeli dan membacanya. Malam Anda tidak akan membosankan dengan membaca buku ini.

  • Ika Utomo
    2019-03-03 01:09

    Ini buku yang mendarat di tangan saya tanpa sengaja. Kok bisa? Jadi ceritanya nih, Kak Cindy (yang dapet buku ini sebagai buntelan langsung dari penulisnya) meminjamkan buku ini ke Kak Lila, yang karena sering banget ketemu saya, maka buku ini dititipkan pada saya untuk diberikan ke kak Lila. Nah, proses titip-menitip yang njlimet ini tentu saja melalui proses SBI (Sensor By Ika)yang artinya saya baca dulu sendiri, hehehee.... ini juga dari koar-koar kak Cindy yang bilang bahwa buku ini "nggak kusangka bisa sebagus ini" (demikian kutipan langsung dari kak Cindy di Gramed Pandanaran, Semarang pada Sabtu siang itu #tsahhh XDBuku ini cukup mengesankan, mengingat ini buku tentang intrik perbankan pertama yang saya baca dan ditulis orang indonesia pula! Untuk sebuah buku yang bukan kategori genre favorit saya, buku ini bisa menemani malam minggu saya dengan sukses.Makarim Ghanin yang bukan seorang detektif tiba-tiba mendapat tawaran pekerjaan yang tidak biasa dari teman masa kuliahnya yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur di Universal Bank of Indonesia (UBI). Agung, si wakil direktur, memintanya menyelidiki kasus menghilangnya sejumlah besar uang, yang mengacu pada tiga tersangka utama: Rifad Akbar si Patriot yang militan dan pemimpin Serikat Pekerja, Reza Ramaditya sang jenius muda yang entah karena alasan apa sedang mengalami demotivasi, dan Amanda Suseno si perayu yang cantik dan seorang pegawai teladan yang sangat dipercaya. Penyelidikan Makarim terhadap ketiga orang ini mengantarkannya pada intrik terselubung yang jauh lebih besar dari dugaannya.Well, singkat cerita, saya sebenarnya mau memberi 3,8 bintang untuk buku ini, tapi karena harus bulat, angka 4 bintang masih dengan senang hati saya berikan kok, soalnya sebagai sebuah karya fiksi pertama, buku ini cukup oke.Untuk review yang lebih lengkap silahkan kunjungi blog saya: http://ladylove01.blogspot.com/2013/0...

  • Reyuni Adelina
    2019-03-08 00:21

    Makarim Ghanim bukan seorang detektif. Ia pria separuh baya yang dikenal karena pengalaman dan kecakapannya dalam memberi masukan atau nasihat bagi perusahaan-perusahaan besar dan pemerintah. Ia mendirikan Makarim G. and Co. sebuah perusahaan patungan dengan temannya ini adalah penyedia jasa konsultasi terpadu bagi perusahaan-perusahaan yang mempunyai masalah pengaturan sumber daya mereka. Suatu hari, seorang 'teman lama'-nya menghubungi Makarim untuk membantunya dalam sebuah penyelidikan. Orang itu adalah Agung Suditama, Wakil Direktur Utama di Universal Bank of Indonesia (UBI). Agung meminta bantuan Makarim untuk menyelidiki tiga tersangka utama yang diduga 'melenyapkan' uang sebanyak 17 miliar dari pembukuan UBI. Agung meminta Makarim untuk menyelidiki ketiga orang itu--Rifad, Amanda, dan Reza--yang diduga memiliki motif yang paling berpotensi untuk melakukan penggelapan. Makarim menyetujuinya dan mulai menyelidiki ketiga orang yang memiliki pengaruh besar di UBI Surabaya itu. Nggak bisa banyak komentar tentang buku ini. Yang jelas kepingan domino yang satu per satu terkuak membuatku deg-degan di setiap proses penguraiannya. Banyak kejutan yang membuatku tak bisa berhenti dan penasaran dengan apa yg terjadi berikutnya. Emosi juga dipermainkan di sini. Bagaimana Makarim membantu kita menelaah kepingan-kepingan skenario besar yg sudah dirancang oleh orang yg bersembunyi dibalik sebuah topeng. Tokoh-tokohnya berhasil 'hidup' dan membawa kita dalam petualangan yang memacu adrenalin. Nyatanya, sistem yang kelihatan mapan, tak ubahnya hanya sistem usang yang penuh kebobrokan. Hanya berperan sebagai aktor yang memainkan peran untuk menutupi sistem yang lebih besar dan jauh lebih buruk. Saya nggak ragu untuk memberi 4 bintang untuk novel debut ini. Recommended!